RELCA

Kumpulan Artikel Unik

Banyak dilakukan di akhir pekan hanya untuk jalan-jalan atau menikmati malam bersama teman-teman di kawasan Kota Tua Jakarta. Dikutip dari bandarqq365 jika Anda kebetulan berada di sana, tengoklah area Sinkian Plot dan Anda akan menemukan lapangan sepak bola di tengah-tengah area pemukiman.

Jakarta tidak pernah tidur. Kemungkinan hanya saat Idul Fitri (Idul Fitri) atau saat karantina diberlakukan karena wabah virus Corona (COVID-19). Setelah konsesi ini diberikan, Jakarta kembali ke standar semula, meski statusnya “normal baru”.

Ok, lupakan Jakarta yang dulu “sepi”, Jakarta seperti yang kita kenal sebagai kota yang sibuk dimana setiap trotoar dan transportasi selalu ramai. Di pagi hari, orang naik bus kota, kereta api, ojek online, MRT, dan alat transportasi lain, termasuk sepeda motor, mobil, atau sepeda. Setiap orang punya waktu untuk pergi bekerja atau sekolah.

Menilik hiruk pikuk jalanan Jakarta, orang seakan jarang melihat lapangan sepak bola. Dulu, dalam sejarah lansia, Jakarta masih banyak lahan kosong di tahun 1950-an. Siapapun bisa bermain sepak bola, baik pertandingan resmi maupun tarkam (tarkam).

Saat itu masih banyak wilayah representasi yang dijadikan tempat pertandingan sepak bola. Sebut saja IKADA Padang (Persatuan Atletik Jakarta), MBFA Medan di kawasan Banteng, Lapangan Hidup Sumohardjo di Jatinegara atau elite Medan Menteng alias Stadion Persija.

Namun ada satu kawasan yang cukup menarik yaitu Sinkian Plot di kabupaten Mangga Besar dan dekat dengan Kota Tua. Bagi para orang tua, camp ini memiliki sejarah yang mendalam khususnya bagi etnis Tionghoa di Jakarta. Lapangan ini milik klub Union Make Strength (UMS). Klub etnis Tionghoa Betawi yang legendaris berdiri pada 19 Desember 1905.

UMS bukan satu-satunya klub Tionghoa di Batavia atau Jakarta saat ini. Ada Chung Hua Tjing Nen Hui (Tunas Jaya) dan juga BBSA (Asosiasi Olahraga Bangka Belitong). Namun, nama UMS jelas merupakan yang pertama dari dua pesaingnya. Selain klub lama, UMS juga merupakan gudang pemain bertalenta.

Perlu diketahui bahwa sebelum era kemerdekaan, UMS merupakan klub hebat yang kerap menjuarai kompetisi VBO (Voetballbond Batavia en Omstraken). Setelah era kemerdekaan, UMS terus melahirkan pemain-pemain hebat bagi Indonesia. Terlihat nama Kwee Tik Liong, Djamiaat Dalhar, Chris Ong, Kwee Kiat Sek, dan Yudo Hadiyanto adalah nama-nama legenda sepakbola Indonesia.

Kelancaran UMS kala itu dalam memproduksi pemain tak lepas dari plot Sinkian. Setiap hari, pagi, sore atau sore hari, lapangan tidak pernah berhenti berdenyut. Awalnya UMS menyewa klub Donar (Tjih Ying Hewi). Tapi pada akhirnya, UMS menyewa pertanian H. Manaf dengan 6 guild sebulan.

Karena cocok untuk taman Haji Manaf, kedua pendiri UMS, Oey Keng Seng dan Louw Hap Ic, membeli lahan tersebut dari Haji Manaf. Lahan kebun ubi kayu menjadi lahan pertanian UMS di area loteng Sinkian.

Setelah itu, dua pendiri UMS, Oey Keng Seng dan Louw Hap Ic membeli lahan pertanian dari Haji Manaf. Kebun yang dulunya merupakan tanaman singkong ini resmi dimiliki oleh UMS.

RELATED ARTICLES

Menonton Film Online Dengan Mudah Melalui Site Ini

Kegiatan online merupakan kegiatan yang banyak dilakukan masyarakat modern kini. Hampir seluruh kegiatan harian yang dilakukan terkoneksi secara online. Mulai dari kegiatan belajar, bermain, menjaga silaturahmi hingga kegiatan menonton tayangan pun dilakukan secara online. Kegiatan online memang menyenangkan untuk dilakukan karena praktis dan sangat fleksibel.…

Awal Petaka Manchester City

Olympique Lyonnais melakukan kejutan lanjutan hingga babak perempat final Liga Champions yang berlangsung pada Sabtu (15/8) waktu setempat. Dikutip dari dominoqq tim yang hanya menempati urutan ketujuh di Ligue 1 itu mengalahkan Manchester City 3-1. Hasil ini mencegah Pep Guardiola dari Man Guard City lolos…

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *